Pendekatan Milenial di Bidang Perjalanan Pariwisata di Era Digitalisasi

Di era globalisasi saat ini pariwisata Indonesia kian mengalami perkembangan.  Indonesia sukses mendapatkan perhatian wisatawan mancanegara (wisman) sport tourism saat gelaran Asian Games 2018, kali ini Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengungkapkan bahwa Indonesia telah berhasil meraih prestasi dalam bidang pariwisata berbasis digital. Terhitung angka wisman yang datang untuk berlibur dengan tetap bisa terhubung dengan dunia digital terbilang besar. Mereka didominasi oleh kaum muda atau generasi milenial yang menginginkan wisata yang nyaman dan bisa membagikannya melalui media sosial. Hal ini juga yang menjadi kesempatan atau ajang promosi bagi pariwisata yang ada di Indonesia

Nah, begitu besarnya pengguna internet saat ini yang difasilitasi oleh Smartphone sehingga melahirkan sebuah Generasi Milenial. Sebuah generasi yang 80% eksis di dunia maya, media sosial dan media digital. Kementerian Pariwisata menangkap peluang ini dengan melahirkan sebuah komunitas netizen zaman now yang tertarik dengan pariwisata dan 80% bergerak di sosial media, yaitu GenPI (Generasi Pesona Indonesia) dan GenWI (Generasi Wonderful Indonesia) yang sangat disambut baik oleh Menteri Pariwisata. Dimana GenPI/GenWI adalah generasi milenial dengan basis komunitas yang aktif mempromosikan Pariwisata Indonesia baik melalui blog, vlog atau medsos kepada masyarakat luas. Mereka sangat aktif dan rutin menggunakan jari mereka untuk pariwisata Indonesia. Passion mereka memang di pariwisata, untuk itu setiap hari mempromosikan tema-tema pariwisata di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, WeChat, Weibo, Line, Path, dan platform medsos lainnya.

Generasi milenial adalah konsumen wisata yang sangat potensial dalam proses pendekatan dibidang perjalanan pariwisata. Selain jumlah yang besar, karakter mereka secara tidak langsung sangat mendukung proses promosi. Oleh karena itu, pengelola wisata dituntut untuk mengikuti keinginan dan harapan pengunjung atau kaum milenial agar terpenuhi. Jika tidak, tentu mereka akan mengabaikan wisata kita. Secara berurutan, generasi milenial paling banyak menggunakan media sosial youtube, facebook dan instagram. Pegiat wisata berbasis masyarakat harus mempelajari karakter dari ketiga media sosial tersebut. Secara teknis, perlu riset media sosial untuk mendapatkan hati para generasi milenial. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari kata kunci yang berhubungan dengan wisata yang sedang kita kembangkan. Misalnya saat ada penyelenggaraan event pariwisata seperti Denpasar  Festival tentu penggunaan hastag atau tanda pagar dalam meng-upload sesuatu. Setelah itu perlu mencari akun atau orang-orang yang tertarik dengan karakter wisata yang sedang dikembangkan. Terakhir, mengunggah foto atau video terbaik atau menarik dengan menyertakan kata kunci dan menandai (tag) orang-orang sehingga saat orang lain membuka aplikasi tentu akan menjadi prioritas tampilan dalam halaman awal.

Selain partisipasi, prinsip yang harus dijaga dalam pengembangan wisata adalah menjaga kebudayaan. Tiga pilar pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam hal ini. Wisata tidak boleh hanya mengedepankan tujuan ekonomi tapi juga keberlanjutan sosial budaya dan lingkungan. Inti wisata berbasis masyarakat bukan soal bagus atau tidaknya destinasi. Perubahan pola pikir masyarakat adalah hal yang lebih utama. Misalnya dalam sebuah desa wisata yang sedang digalakkan di seluruh wilayah Bali, satu penduduk dengan penduduk lain harus memiliki keramahan yang sama. Ketika disambut dengan keramahan semua penduduk desa, secara otomatis wisatawan akan merasa senang dan akan kembali datang ke desa tersebut. Karenanya partisipasi masyarakat dan keramahan mereka inilah yang akan menjadi faktor keberlanjutan wisata berbasis masyarakat.

Wisatawan zaman now memiliki gaya hidup digital (digital lifestyle), dan perangkat digital mereka harus didukung oleh beberapa fasilitas seperti tempat charging baterai, steker listrik (colokan), wifi, dll. Hal tersebut mungkin dipandang sepele, tetapi kenyataannya masih banyak tempat wisata yang masih belum aware. Berarti pengelola harus benar-benar memiliki media digital seperti website, aplikasi mobile, dan mendukung sistem transaksi digital.

Adapun saran, jika ingin berhasil dalam penerapan sebuah teknologi. Kita membutuhkan kehadiran unsur kunci lainnya seperti sumber daya manusia (SDM) atau humanware, hubungan kerja atau kolaborasi, dan berbagai informasi yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja dengan baik. Karena usaha pariwisata/destinasi zaman now harus terus kreatif dan inovatif dengan selalu menampilkan augmented product yang baru, yang unik, agar selalu hits dan tidak membosankan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai